KanalNasional.com | Tangsel – Suara keresahan warga Pakujaya Permai makin nyaring terdengar. Proyek pembangunan longstorage—sistem penampungan air bawah jalan senilai Rp2,4 miliar—yang tengah dikerjakan di kawasan RT 10 dan 11 RW 05, Serpong Utara, kini berubah jadi polemik panjang.
Bukan hanya soal jalan yang akan digali berbulan-bulan, warga juga khawatir pemborong proyek tidak bertanggung jawab jika rumah mereka terdampak. Pujo Wuryanto, salah satu warga yang tinggal persis di depan jalur galian, tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
“Ini di depan rumah saya akan terkena penggalian. Dari awal saya sudah menolak, tapi tetap jalan,” keluh Pujo sambil menunjuk lokasi yang hanya beberapa langkah dari masjid.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Selama 197 hari kalender atau lebih dari enam bulan, akses mereka terganggu, aktivitas keseharian terhambat, bahkan muncul bayang-bayang kerusakan di sekitar rumah. Karena itulah warga kompak menulis surat desakan kepada Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Tangsel, meminta jaminan keselamatan atas dampak proyek tersebut.
Namun, ironinya, pihak dinas justru secara terbuka mengakui bahwa proyek ini tak serta merta bisa mengatasi banjir yang kerap melanda Pakujaya Permai.
“Kita tidak mungkin mengurangi banjir, karena posisi kawasan ini paling rendah. Yang bisa kita lakukan hanya mempercepat air keluar,” terang Budi Raharjo, pegawai SDABMBK Tangsel, sembari meminta maaf atas ketidaknyamanan warga.
Pernyataan itu sontak membuat warga makin bertanya-tanya: untuk siapa sebenarnya proyek bernilai miliaran rupiah ini dikerjakan? Apakah benar menjadi solusi, atau justru menambah masalah baru?
Kini, bola panas ada di tangan Pemkot Tangsel dan pelaksana proyek CV Reva. Warga menunggu bukti nyata, bukan sekadar janji di atas kertas. (*)
















