KanalNasional.com | JAKARTA – Baru 24 jam dilantik, Jenderal Suyudi Ario Seto langsung bikin gempar. Kapolri baru itu menandatangani surat telegram mutasi terbesar dalam setahun terakhir: 19 Kapolda dicopot dan diganti sekaligus.
Keputusan itu tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tanggal 2 Oktober 2026.
“Gebrak Meja” di Hari Pertama
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah Suyudi disebut paling berani sejak ia menggantikan Jenderal Listyo Sigit. Tanpa basa-basi, ia menggeser pucuk pimpinan di hampir separuh Polda se-Indonesia.
Yang kena rotasi bukan kaleng-kaleng:
Kapolda Metro Jaya, Kapolda Jabar, Jateng, Jatim, Sumut, Sumsel, Riau, Sumbar, Jambi, Bali, DIY, NTT, Maluku, Kepri, Banten, Sulsel, Gorontalo, Sulteng, dan Sulbar.
Paling mengejutkan, 4 dari 19 Kapolda yang dicopot itu baru saja dilantik. Artinya, masa jabatan mereka belum genap. Pangkat tetap jenderal, tapi kursi komando lepas.
Ini bukan mutasi biasa. Publik membaca ini sebagai sinyal kuat evaluasi kinerja dan integritas secara mendadak.
Langkah drastis ini langsung memicu 3 harapan besar dari masyarakat:
1. Usut Tuntas Korupsi – Pastikan tidak ada pejabat yang main proyek dan memperkaya diri.
2. Hentikan Backing Ilegal – Sikat tambang liar, judi online, hingga peredaran narkoba yang katanya dibekingi oknum.
3. Berantas Permainan Hukum – Tegakkan hukum tanpa tebang pilih dan hentikan intervensi penyidikan.
Banyak yang menyebut ini awal dari “Operasi Semut” ala Suyudi. Bersih-bersih dari dalam.
Tapi Irwasum diingatkan. Mutasi bukan berarti vonis. Semua dugaan terhadap Kapolda yang dicopot tetap harus dibuktikan lewat pemeriksaan internal dan jalur hukum.
Publik juga diimbau bijak. Jangan menghakimi dulu lewat gorengan media sosial. Kasih ruang Kapolri dan timnya bekerja.
Pertanyaannya sekarang: apakah ST/2205 ini cuma jadi rekor “mutasi 19 Kapolda sehari”, atau benar-benar jadi titik balik Polri?
Dengan gaya cepat dan tegas ini, Suyudi mengirim pesan: era kompromi sudah selesai. Sekarang saatnya kerja, bersih, dan berwibawa.
Mata publik kini tertuju. Langkah selanjutnya Kapolri akan menentukan apakah gebrakan hari pertama ini akan jadi sejarah, atau jadi fondasi Polri baru.
















