KanalNasional.com | TAJURHALANG – Rencana pembangunan SMA Negeri 2 di Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, menuai sorotan dari tokoh masyarakat setempat.
Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tajurhalang, Ustaz Ruslan Abdul Gani, mempertanyakan prioritas pembangunan tersebut. Menurutnya, persoalan pendidikan di wilayah Tajurhalang saat ini bukan hanya soal daya tampung SMA, tetapi juga belum tersedianya SMK Negeri.
Padahal, Kecamatan Tajurhalang yang terdiri dari tujuh desa saat ini telah memiliki SMA Negeri 1 Tajurhalang yang berada di Jalan Raya Tajurhalang Nomor 6, Desa Tajurhalang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara untuk jenjang pendidikan kejuruan, hingga kini belum terdapat satu pun SMK Negeri di wilayah tersebut.
Kondisi itu, kata Ruslan, membuat lulusan SMP yang ingin melanjutkan pendidikan ke jalur kejuruan harus mencari sekolah ke wilayah lain atau memilih SMK swasta.
“Memang setiap tahunnya pendaftar di SMA Negeri Tajurhalang berlebih. Mereka yang tidak diterima akhirnya terpaksa masuk sekolah swasta,” ujar Ruslan kepada KanalNasional.com, Minggu (20/9/2026).
Menurutnya, tingginya jumlah pendaftar SMA Negeri memang menunjukkan adanya persoalan daya tampung. Namun, pemerintah dinilai perlu melihat kebutuhan pendidikan secara lebih menyeluruh sebelum menentukan jenis sekolah yang akan dibangun.
Ruslan mengatakan, selama ini sejumlah lulusan SMP dari Tajurhalang memilih mendaftar ke SMK Negeri di Kecamatan Bojonggede. Persoalannya, daya tampung yang terbatas serta ketentuan penerimaan peserta didik membuat tidak seluruh calon siswa dapat diterima.
“Kalau secara umum, masyarakat sebenarnya lebih menginginkan adanya SMK Negeri Tajurhalang. Itu yang lebih dibutuhkan saat ini karena di Kecamatan Tajurhalang memang belum ada SMK Negeri,” katanya.
Ia menilai keberadaan SMK Negeri di Tajurhalang dapat memberikan alternatif pendidikan bagi siswa yang ingin menempuh pendidikan berbasis keahlian tanpa harus mencari sekolah ke kecamatan lain.
Ruslan juga menyinggung persoalan penerimaan siswa baru di SMA Negeri Tajurhalang. Tingginya jumlah pendaftar membuat sebagian calon peserta didik tidak terserap melalui jalur yang tersedia.
“Di SMA juga sama, melalui jalur zonasi ada yang tidak terserap. Tetapi kalau melihat kebutuhan saat ini, keberadaan SMK Negeri lebih mendesak karena memang belum ada di Tajurhalang,” ujarnya.
Sorotan Ruslan tak hanya berkaitan dengan jenis sekolah yang akan dibangun. Ia juga mempertanyakan proses munculnya rencana pembangunan SMA Negeri 2 Tajurhalang.
Sebagai Ketua MWCNU Kecamatan Tajurhalang, Ruslan mengaku tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan maupun musyawarah terkait rencana pembangunan sekolah tersebut.
“Saya sendiri tidak dilibatkan. Saya tidak pernah diundang ketika ada pembahasan atau musyawarah terkait rencana pembangunan SMA Negeri 2 Tajurhalang,” ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, lokasi pembangunan SMA Negeri 2 tersebut direncanakan berada di wilayah Desa Sasak Panjang, tepatnya di kawasan Perumahan Puri.
Ruslan berharap rencana tersebut masih dapat dikaji kembali dengan mempertimbangkan kebutuhan pendidikan masyarakat di lapangan.
Menurutnya, pembangunan fasilitas pendidikan seharusnya tidak hanya mempertimbangkan persoalan jumlah pendaftar, tetapi juga melihat ketersediaan jenis sekolah dan minat masyarakat.
“Harapan saya, untuk sekarang ini lebih baik dibangun SMK Negeri karena memang belum ada di Kecamatan Tajurhalang,” katanya.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat membuka ruang pembahasan yang lebih luas bersama masyarakat sebelum keputusan pembangunan ditetapkan.
“Mudah-mudahan bisa berubah menjadi SMK Negeri. Peminat SMK juga banyak dibandingkan SMA,” pungkasnya.
















