KanalNasional.com | Belantara Foundation bersama Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Biologi Fakultas MIPA, dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pakuan telah sukses menyelenggarakan seminar dan pelatihan bertema “Perhutanan Sosial: Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Berbasis Masyarakat untuk Perubahan Iklim dan Kesejahteraan” pada Senin, 4 Maret 2024. Lebih dari 1.300 peserta turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut yang diadakan secara hybrid.
Seminar nasional secara luring berlangsung di Auditorium Lantai 3 Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan di Bogor, dengan daring melalui aplikasi Zoom dan live streaming YouTube Belantara Foundation. Acara ini merupakan bagian dari kegiatan Belantara Learning Series Eps.9 (BLS Eps.9).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi, KKI Warsi, dan Winrock International, melibatkan tujuh universitas sebagai kolaborator, seperti Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Nasional, Universitas Andalas, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Nusa Bangsa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah Indonesia menargetkan pencapaian net sink zero karbon dioksida (CO2) pada tahun 2030 dari sektor hutan dan penggunaan lahan lainnya (Forest and Other Land Use/FOLU). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI No. 168 Tahun 2022 menetapkan Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030 untuk Pengendalian Perubahan Iklim.
Dalam seminar ini, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK, Bambang Supriyanto, menjadi pembicara kunci. Ia menyampaikan bahwa hingga tahun 2023, distribusi areal perhutanan sosial telah mencapai lebih dari 6,4 juta hektar, dan sisanya akan didistribusikan hingga tahun 2030 dengan strategi “Kerja Bareng Jemput Bola.”
Perhutanan Sosial, sebagai sistem pengelolaan hutan lestari, menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Program ini bertujuan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan, meningkatkan pendapatan desa secara lestari, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa untuk berkontribusi pada penyerapan karbon.
Dalam sambutannya, Direktur Hubungan Eksternal PT Agincourt Resources, Sanny Tjan, menyatakan dukungan perusahaan terhadap Belantara Foundation dan pentingnya kolaborasi antarpihak untuk mencapai tujuan perhutanan sosial di Indonesia dengan konsep pentahelix.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, menekankan tujuan seminar untuk meningkatkan pemahaman stakeholders mengenai regulasi dan kebijakan perhutanan sosial. Ia juga menyebutkan pentingnya melibatkan berbagai pihak, terutama sektor swasta, untuk mendukung program perhutanan sosial di Indonesia.
Rektor Universitas Pakuan, Didik Notosudjono, menyatakan bahwa program Perhutanan Sosial dapat menjadi sarana bagi dosen dan mahasiswa untuk pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Ia juga mengapresiasi kegiatan seminar sebagai upaya mengarusutamakan isu-isu lingkungan hidup di Indonesia.
Dengan narasumber yang memiliki pengalaman dalam perhutanan sosial, seperti Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial Ditjen PSKL, Catur Endah Prasetiani, seminar ini berhasil menciptakan platform berharga untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan kolaborasi demi pengelolaan hutan yang berkelanjutan di Indonesia.















