KanalNasional.com | CISEENG, BOGOR – Proses revitalisasi SMP Negeri 2 Ciseeng, Kabupaten Bogor, mendapat perhatian langsung dari pemerintah kecamatan. Camat Ciseeng, Subhi, meninjau pelaksanaan pembangunan di sekolah yang berada di Jalan AMD Cibentang RT 01/03, Desa Kuripan, Kamis (3/9/2026).
Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan pembangunan ruang kelas baru (RKB) dan sejumlah pekerjaan revitalisasi lainnya berjalan sesuai dengan rencana.
Saat berada di lokasi, Subhi mengatakan kunjungannya merupakan bagian dari upaya memastikan program pembangunan di SMPN 2 Ciseeng benar-benar telah berjalan. Berdasarkan keterangan pihak sekolah, proyek tersebut dilaksanakan melalui mekanisme swakelola.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita hanya memastikan saja bahwa kegiatan ini sudah berjalan dan mungkin teman-teman juga sudah dengar dari kepala sekolah bahwa kegiatan ini dilaksanakan secara swakelola,” ujar Subhi.
Menurutnya, penambahan ruang kelas menjadi kebutuhan yang cukup mendesak bagi SMPN 2 Ciseeng. Hal itu tidak lepas dari jumlah peserta didik baru yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Selain mendukung kebutuhan sarana pendidikan, Subhi menilai pelaksanaan pembangunan secara swakelola juga memberikan manfaat lain bagi masyarakat sekitar. Salah satunya melalui keterlibatan tenaga kerja lokal dalam proses pembangunan.
“Penambahan ruang kelas baru sangat penting, mengingat setiap tahunnya jumlah siswa yang mendaftar ke sekolah ini selalu bertambah,” katanya.
Dapat Bantuan Revitalisasi Rp2,091 Miliar
Kepala SMP Negeri 2 Ciseeng, Siti Rahmayanti, atau yang akrab disapa Bu Yanti, menjelaskan bahwa sekolahnya memperoleh bantuan program revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Bantuan tersebut meliputi pembangunan tiga ruang kelas baru, renovasi tiga ruang kelas, serta pembangunan satu unit toilet.
Siti menyebut total anggaran program tersebut mencapai sekitar Rp2,091 miliar yang bersumber dari APBN 2026. Menurutnya, bantuan tersebut berasal dari aspirasi anggota DPR.
“Alhamdulillah SMPN 2 Ciseeng mendapatkan bantuan dari Kemendikdasmen untuk pembangunan revitalisasi, yaitu RKB sebanyak tiga, renovasi kelas ada tiga, dan satu unit toilet. Ini merupakan bantuan dari aspirasi Dewan, kisarannya sebesar Rp2,091 miliar yang diambil dari APBN,” ungkap Siti.
Ia menambahkan, proses pembangunan tetap mendapatkan monitoring dan evaluasi dari pihak Kemendikdasmen. Sementara untuk kebutuhan material, pembelian dilakukan berdasarkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah ditetapkan.
Konsultan Wajib Memenuhi Standar
Dalam pelaksanaan revitalisasi tersebut, pihak sekolah juga melibatkan konsultan perencana dan konsultan pengawas. Siti menjelaskan, sekolah memang memiliki ruang untuk menentukan konsultan, namun calon konsultan harus memenuhi persyaratan serta kualifikasi yang telah ditetapkan Kemendikdasmen.
Di antaranya memiliki latar belakang pendidikan teknik sipil, sertifikasi yang sesuai, serta pengalaman di bidang konstruksi.
“Yang penting mereka sudah masuk kualifikasi yang memang sudah ada standarnya dari Kemendikdasmen. Pendidikannya harus teknik sipil, harus punya beberapa sertifikat dan pengalaman dalam bidang konstruksi,” jelasnya.
Menurut Siti, penetapan konsultan juga melewati proses verifikasi sehingga tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
“Di-ACC-nya tidak sembarangan. Melalui proses yang jelas. Jadi kalau sesuai dengan kualifikasi bisa lolos, kalau tidak ya tidak bisa,” tegasnya.
Pekerja Lokal Jadi Prioritas
Salah satu prinsip dalam pelaksanaan proyek secara swakelola adalah adanya keterlibatan masyarakat di sekitar sekolah. Karena itu, tenaga kerja yang digunakan diutamakan berasal dari lingkungan sekitar.
Siti mengatakan, pihak luar hanya dapat dilibatkan apabila memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam proses pembangunan.
“Pekerja pun tidak boleh dari luar, kecuali tenaga ahli. Itu harus merekrut masyarakat sekitar. Kemudian pembelanjaan juga dari toko-toko material setempat,” paparnya.
Menurutnya, pola tersebut memberikan manfaat lebih luas karena pembangunan sekolah tidak hanya berdampak pada peningkatan fasilitas pendidikan, tetapi juga turut menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Dengan melibatkan tenaga kerja lokal sekaligus memanfaatkan toko material di wilayah setempat, perputaran ekonomi di sekitar SMPN 2 Ciseeng diharapkan ikut meningkat.
“Jadi swakelola ini saya sangat sepakat sekali. Masyarakat wajib dilibatkan. Jadi lebih bermanfaat juga bagi wilayah kita dan masyarakat kita,” pungkas Siti. (Red)















