KanalNasional.com | Kepergian Prof. Dr. Franciskus Xaverius Mudji Sutrisno pada 28 Desember 2025 meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi komunitas Katolik, tetapi juga bagi dunia kebudayaan dan pemikiran Indonesia. Romo Mudji—sapaan akrabnya—dikenal sebagai sosok rohaniwan yang melampaui batas mimbar, menghadirkan iman dalam ruang-ruang kemanusiaan yang nyata.
Romo Mudji merupakan pastor Jesuit dengan latar belakang sebagai filsuf, budayawan, seniman, sekaligus akademisi. Penampilannya yang sederhana, dengan rambut gondrong khas, kerap membuatnya tampak lebih seperti seniman ketimbang rohaniwan. Namun di balik kesan “nyeleneh” itu, tersimpan ketajaman intelektual dan keluasan pandangan yang menjadikan pemikirannya selalu dinantikan.
Sebagai Guru Besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Romo Mudji dikenal memiliki cara unik dalam menyampaikan filsafat. Bahasa yang digunakannya lugas dan sastrawi, membuat gagasan-gagasan filosofis yang kompleks menjadi mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia kerap menekankan bahwa filsafat tidak boleh terpisah dari realitas manusia yang konkret.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepanjang hidupnya, Romo Mudji menulis lebih dari 45 buku yang membahas kebudayaan, peradaban, estetika, hingga pemikiran pascakolonial. Sejumlah karyanya seperti Langkah-langkah Peradaban, Ide-ide Pencerahan, Oase Estetis, dan Membaca Wajah Kebudayaan menjadi rujukan penting dalam kajian filsafat dan kebudayaan di Indonesia.
Tidak hanya bergelut di dunia akademik, Romo Mudji juga aktif dalam isu-isu sosial dan kebangsaan. Ia sempat menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada periode 2001–2003, sebelum akhirnya memilih mundur. Ia juga dikenal terlibat dalam aksi Kamisan di Bundaran HI, sebagai bentuk kepeduliannya terhadap penegakan kebenaran dan keadilan, khususnya terkait tragedi kemanusiaan di masa lalu.
Dalam kehidupan sehari-hari, Romo Mudji dikenal hidup bersahaja. Ia masih menggunakan transportasi umum, tinggal di rumah sederhana di kawasan Salemba, Jakarta, dan menjalin relasi tanpa sekat dengan siapa pun. Sikap rendah hati dan gestur yang “memanusiakan manusia” menjadi ciri khas yang dikenang banyak orang.
Kepergian Romo Mudji menandai berakhirnya perjalanan seorang pemikir yang konsisten menjembatani religiusitas dan kebudayaan. Meski telah berpulang, gagasan serta keteladanan hidupnya diyakini akan terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi yang mencari makna, keadilan, dan kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Warisan Romo Mudji bukan hanya tertulis dalam buku-buku dan karya seni, tetapi juga hidup dalam nilai-nilai yang ia praktikkan: kebaikan yang dibagikan, terang yang dipancarkan, dan iman yang diwujudkan dalam tindakan nyata. (*)















