KanalNasional.com | Setiap 29 Juli 2025 menjadi Hari Harimau Sedunia, kita kembali diingatkan bahwa harimau bukan sekadar penghuni hutan, melainkan penjaga keseimbangan alam yang kian terdesak ruang hidupnya. Di Indonesia, kisah harimau sumatra tak hanya tercatat dalam buku-buku biologi, tapi juga hidup dalam napas masyarakat adat yang memanggilnya sebagai Ompung, Datuak, hingga Puyang—sebutan penuh hormat kepada “leluhur berkaki empat” yang kini terancam punah.
Tema Global Tiger Day 2025, “Hidup Berdampingan Secara Harmonis antara Manusia dan Harimau”, menjadi seruan keras untuk mengembalikan ruang bagi sang Raja Rimba di tengah derasnya aktivitas manusia. “Harimau sumatra saat ini berstatus Kritis menurut IUCN. Jika tidak ada intervensi konservasi berbasis masyarakat, kita hanya akan mengenang mereka dalam cerita,” tegas Dr. Dolly Priatna, Direktur Eksekutif Belantara Foundation.
Kisah leluhur tentang harimau bukan sekadar dongeng penakluk hutan. Di Aceh, harimau—disebut Rimueng—diyakini menjaga makam keramat. Di Sumatera Utara, masyarakat Batak menyapa mereka dengan ‘Ompung’—seolah kakek sendiri yang menjaga hutan. Sementara di Jambi, jika harimau muncul di kampung, itu pertanda manusia melanggar adat, dan ritual adat harus digelar demi menjaga keseimbangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Forum HarimauKita, Iding Achmad Haidir menegaskan, pelestarian harimau tak cukup berhenti pada patroli hutan. “Konservasi harimau harus sejalan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Harimau selamat, masyarakat sejahtera.” Kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha adalah kunci.
Dalam peringatan Global Tiger Day tahun ini, berbagai inisiatif serentak digelar di pelosok negeri. Dari Aceh hingga Lampung, kearifan lokal diangkat kembali ke permukaan. Di Riau, masyarakat masih meminta izin pada Datuk sebelum memasuki hutan. Di Sumatera Barat, harimau mengilhami silat Harimau yang mewariskan gerakan lembut namun mematikan. Di Lampung, tradisi ngarak harimau tetap dijaga sebagai bentuk penghormatan spiritual.
Kisah harimau sumatra yang terjalin dalam budaya lokal menjadi amunisi kuat bagi upaya konservasi berbasis nilai-nilai leluhur. “Masa depan harimau sumatra ada di tangan kita semua—bukan hanya penegak hukum, tapi juga di hati masyarakat yang memelihara cerita dan kepercayaan terhadap mereka,” tegas Dolly.
Kini, pilihan ada di tangan kita: membiarkan harimau sumatra menghilang sebagai kenangan, atau menghidupkan kembali harmoni yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Sebab, menjaga harimau berarti menjaga hutan, menjaga hutan berarti menjaga masa depan manusia sendiri. (Fadlik Al Iman)















