KanalNasional.com | BANTEN – Siapa sangka, sebuah kampung nelayan di pesisir Banten perlahan berubah menjadi pusat harapan baru bagi masa depan lingkungan Indonesia? Kampung Bahari Nusantara, yang dulu hanya dikenal sebagai pemukiman sederhana, kini menyimpan potensi besar untuk menjadi kawasan restorasi pesisir yang berkelanjutan. Potensi ini tak luput dari perhatian Universitas Nasional (UNAS), yang mengirimkan delegasi khusus untuk meninjau langsung ke lokasi, Senin (21/7/2025).
Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama UNAS, Prof. Dr. Ernawati Sinaga, didampingi Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian, Dr. Fachruddin Mangunjaya, serta Kepala Bagian Pengembangan Kerjasama, Astri Siregar, M.Si. Mereka terkesima melihat ribuan pohon mangrove muda yang tumbuh subur, hasil kerja keras komunitas lokal seperti Kelompok Stacia Hijau, KTH Remaja Tanjung Burung, dan Klub Indonesia Hijau Regional 01 Jakarta.
“Ini bukan sekadar penanaman pohon, tapi upaya menghidupkan kembali ekosistem yang selama ini terabaikan,” ujar Prof. Ernawati di sela kunjungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fakta menariknya, sejak dimulai tahun 2021, gerakan penanaman mangrove di kawasan ini telah menghasilkan puluhan ribu bibit yang berhasil bertahan dan tumbuh sehat. Pepohonan mangrove dengan akar kokoh menjulur di sepanjang tepian air, menjadi simbol kekuatan gotong-royong antara masyarakat, relawan, siswa sekolah, hingga mahasiswa yang turut menanam bersama.
Bawi, petugas penyuluh kehutanan DLH Provinsi Banten yang sejak awal terlibat, menuturkan perjalanan mereka, “Kami mulai dari nol, dengan semangat swadaya. Dulu tidak banyak yang percaya, tapi sekarang hasilnya bisa dilihat sendiri. Pohon mangrove yang ditanam sudah hidup dan berkembang puluhan ribu batang.”
Lahan yang dikelola oleh Komando Armada 1 ALRI ini berada tak jauh dari kawasan elit PIK 2, membuka peluang besar bagi kolaborasi strategis lintas sektor. UNAS melihat peluang emas untuk menjadikan kawasan ini sebagai laboratorium alam bagi penelitian interdisipliner, model konservasi berbasis kemitraan, hingga program pengabdian masyarakat yang berkelanjutan.
Lebih dari sekadar kunjungan, UNAS berencana menginisiasi program perawatan pohon selama satu tahun ke depan. Tidak hanya memantau pertumbuhan, tetapi juga mengganti pohon yang mati agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
“Semoga ke depan Universitas Nasional bisa terus mendampingi kami. Kami butuh dukungan riset, edukasi, dan kolaborasi untuk menjaga kawasan ini menjadi contoh nyata restorasi pesisir di Indonesia,” harap Bawi menutup perbincangan.
Kini, Kampung Bahari Nusantara bukan lagi sekadar cerita tentang kampung nelayan biasa. Ia menjadi simbol bahwa perubahan bisa dimulai dari tangan-tangan kecil, yang bermimpi besar untuk bumi yang lebih hijau. ( Fadlik Al Iman)















