TANGSEL – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan mengedukasi siswa SD Negeri Pondok Jagung 04 tentang pentingnya menjaga lingkungan melalui pengenalan dan praktik pembuatan lubang biopori.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Gerakan Sejuta Biopori tersebut berlangsung di lingkungan sekolah, Rabu (20/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Para siswa tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai biopori melalui pemaparan materi, tetapi juga mengikuti praktik langsung membuat dan menanam lubang biopori.
Kepala Seksi (Kasi) Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Kota Tangerang Selatan, Elsandy Adha Mukhti, mengatakan edukasi tersebut bertujuan menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sejak dini, terutama dalam mengurangi dan memilah sampah dari sumbernya.
“Kita mengajak warga sekolah lebih peduli dalam mengurangi dan memilah sampah di sumber. Dinas LH membutuhkan dukungan dari semua sektor, salah satunya sektor pendidikan, yaitu sekolah,” ujar Elsandy.
Menurutnya, sekolah menjadi salah satu tempat yang menghasilkan sampah setiap hari. Karena itu, pengelolaan sampah, baik organik maupun anorganik, perlu dilakukan secara tepat dan berkelanjutan.
“Sekolah merupakan salah satu sumber penghasil sampah, sehingga perlu pengelolaan lebih lanjut, baik sampah organik maupun anorganik. Edukasi ini dilaksanakan di SD Negeri Pondok Jagung 04 agar kepedulian siswa sudah tumbuh sejak dini,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan dengan konsep dan manfaat biopori. Elsandy menjelaskan, prinsip biopori mengadopsi pori-pori pada tubuh manusia yang menjadi jalur keluar-masuk udara.
Dalam praktiknya, lubang biopori dapat dibuat menggunakan pipa paralon yang diberi sejumlah lubang pada bagian sisi. Pipa tersebut kemudian ditanam ke dalam tanah dan diisi dengan sampah organik.
Keberadaan lubang biopori dapat menjadi tempat bagi organisme tanah untuk menguraikan sampah organik. Proses tersebut membantu mengubah sampah menjadi material yang lebih halus dan dapat dimanfaatkan sebagai kompos.
“Selain berfungsi menampung sampah organik, biopori juga dapat berfungsi sebagai resapan air. Saat musim penghujan, air dapat meresap ke dalam tanah secara lebih baik,” jelasnya.
Menurut Elsandy, keberadaan biopori di lingkungan sekolah diharapkan tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi sampah organik sekaligus meningkatkan daya resap tanah.
Semakin banyak lubang resapan biopori yang dibuat, air hujan diharapkan dapat lebih cepat meresap ke dalam tanah sehingga potensi genangan di lingkungan sekolah dan sekitarnya dapat ditekan.
DLH Tangsel pun mendorong sekolah menjadi salah satu pusat pembelajaran lingkungan hidup. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami pentingnya menjaga kebersihan, tetapi juga terbiasa mempraktikkan pengelolaan sampah organik dan menjaga daya resap tanah sejak dini. (adv)
















