Abu Erupsi Anak Krakatau Menyebar! Jakarta hingga Bengkulu Terdampak, Penerbangan Mulai Terganggu

Senin, 7 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KanalNasional.com | JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda terus menjadi perhatian pemerintah. Aktivitas vulkanik gunung api tersebut memicu sebaran abu vulkanik yang meluas hingga sejumlah wilayah, mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi pergerakan abu vulkanik dalam dua klaster berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan, abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat dan perairan di sekitarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebarannya meliputi wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda hingga Samudra Hindia.

Kondisi tersebut membuat BMKG menerbitkan sejumlah SIGMET sebagai peringatan penting bagi keselamatan navigasi udara.

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri.

Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan

Dampak erupsi mulai terasa pada sektor penerbangan. Berdasarkan pemberitahuan resmi penerbangan atau NOTAM, operasional sejumlah bandara sempat ditutup sementara pada waktu yang berbeda.

Beberapa bandara yang terdampak antara lain Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto.

BMKG menegaskan, kondisi operasional penerbangan masih dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan arah dan sebaran abu vulkanik di atmosfer.

Tak hanya penerbangan, aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah juga mulai terdampak. Reuters melaporkan erupsi Anak Krakatau menyebabkan penangguhan penerbangan di sejumlah bandara dan berdampak terhadap ratusan penerbangan.

Di beberapa wilayah, aktivitas sekolah dan kegiatan nelayan juga dihentikan sementara akibat paparan abu.

Gunung Anak Krakatau Masih Level Siaga

Dari sisi kegunungapian, aktivitas Anak Krakatau masih terus dipantau pemerintah.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.

Status tersebut dipertahankan setelah aktivitas erupsi berlangsung secara menerus selama sekitar 25 jam.

Meski sebaran abu meluas, masyarakat diminta tidak langsung menyamakan kondisi tersebut dengan hujan abu di permukaan.

Sebab, wilayah yang berada di jalur sebaran abu di atmosfer belum tentu mengalami jatuhan abu. Kondisinya sangat bergantung pada ketinggian, arah dan kecepatan angin.

Jakarta Diminta Tak Panik

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, meminta masyarakat tetap tenang menyikapi potensi masuknya sebaran abu vulkanik ke wilayah Jakarta.

Ia mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah.

“Yang paling penting, masyarakat tidak perlu panik. Tetap tenang, tetapi tingkatkan kewaspadaan dan ikuti informasi resmi dari pemerintah,” ujar Marulitua.

Masyarakat yang berada di wilayah berpotensi terdampak abu juga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan ketika terjadi hujan abu.

Penggunaan masker dan pelindung mata juga dianjurkan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.

BMKG Pastikan Belum Ada Indikasi Tsunami

Di tengah meningkatnya aktivitas Anak Krakatau, perhatian juga tertuju pada potensi tsunami.

Namun, BMKG memastikan hasil pemantauan multi-sensor InaTEWS hingga Minggu pagi belum menunjukkan adanya anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami di Selat Sunda akibat rangkaian erupsi Anak Krakatau.

Meski demikian, pemantauan terhadap potensi vulkanotsunami tetap dilakukan secara terus-menerus.

Pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta mengikuti perkembangan resmi dari BMKG, PVMBG, BPBD dan pemerintah daerah.

Erupsi masih berlangsung, abu terus bergerak mengikuti kondisi atmosfer. Untuk itu, kewaspadaan menjadi kunci, sementara masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik. (Red)

Berita Terkait

Meriahkan HUT RI ke-81, Ribuan Warga Desa Kemang Tumpah Ruah, Kursi Muspika Justru Kosong
Bukan Pidato, Tapi Sapa: Anton Sukartono Bukti Demokrat Hadir di Tengah Rakyat
AKAMSI Soroti Pembongkaran Pura di Sanur sebagai Dugaan Penistaan Agama
Dua Mobil Yayasan Raib di Tengah Malam, Kuasa Hukum Syarif Hidayatullah Laporkan ke Polres Tangsel
KPK Membawa Dokumen dan Dua Koper Dari Dinas Pendidikan Kab Bogor, yang Sebelumnya Bapenda dan BPKSDM
BIN Dorong UU Khusus Tangkal Intervensi Asing, Herindra: Indonesia Jangan Naif
Ribuan Warga Tajurhalang Tumpah Ruah, Rayakan HUT ke-81 RI dengan Karnaval dan Semangat Gotong Royong
Peringati HUT RI ke 81, Benyamin: Kemerdekaan Harus Diisi dengan Kedaulatan dan Kesejahteraan

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 07:37 WIB

Abu Erupsi Anak Krakatau Menyebar! Jakarta hingga Bengkulu Terdampak, Penerbangan Mulai Terganggu

Minggu, 6 September 2026 - 17:04 WIB

Meriahkan HUT RI ke-81, Ribuan Warga Desa Kemang Tumpah Ruah, Kursi Muspika Justru Kosong

Jumat, 4 September 2026 - 16:09 WIB

Bukan Pidato, Tapi Sapa: Anton Sukartono Bukti Demokrat Hadir di Tengah Rakyat

Rabu, 2 September 2026 - 18:38 WIB

AKAMSI Soroti Pembongkaran Pura di Sanur sebagai Dugaan Penistaan Agama

Jumat, 28 Agustus 2026 - 22:04 WIB

KPK Membawa Dokumen dan Dua Koper Dari Dinas Pendidikan Kab Bogor, yang Sebelumnya Bapenda dan BPKSDM

Berita Terbaru