Belantara Foundation Dorong Generasi Muda Hadapi Krisis Biodiversitas di Forum Dunia IUCN

Kamis, 16 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KanalNasional.com | ABU DHABI, UEA — Suara generasi muda Asia Tenggara menggema di panggung dunia. Dalam ajang IUCN World Conservation Congress 2025 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Belantara Foundation tampil sebagai narasumber dalam panel diskusi di IUCN Youth Pavilion bertajuk “How youth tackle the overlooked aspect of biodiversity crisis in Southeast Asia”, Jumat (10/10/2025).

Sesi ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan pembelajaran dari pemimpin-pemimpin muda perempuan di Asia Tenggara dalam menghadapi krisis biodiversitas — sebuah krisis global yang sering kali luput dari perhatian publik. Diskusi ini diinisiasi oleh PROGRES (Prakarsa Konservasi Ekologi Regional Sulawesi) dan terlaksana berkat kolaborasi dengan Belantara Foundation, Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA), serta 30×30 Indonesia & Diverseas.


Peran Belantara: Dekatkan Generasi Muda dengan Alam

Dalam paparannya, Manajer Program & Fundraising Belantara Foundation, Diny Hartiningtias, menegaskan pentingnya memperkenalkan biodiversitas kepada generasi muda melalui cara yang menyenangkan dan aplikatif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Untuk mereka yang tinggal di daerah urban, seperti para siswa SMA, kami ajak mengamati dan mengidentifikasi biodiversitas di sekitar mereka lewat Belantara Biodiversity Class. Sementara bagi anak muda yang sedang meniti karier, kami membuka peluang magang, penelitian, dan keterlibatan langsung dalam survei biodiversitas,” ujar Diny.

Upaya ini, lanjut Diny, menjadi bentuk nyata komitmen Belantara dalam mencetak generasi muda yang tak hanya paham isu lingkungan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berkontribusi aktif dalam pelestarian alam.


Belajar, Mendengarkan, dan Berani Berinovasi

Senada dengan itu, Direktur Yayasan KIARA, Rahayu Oktaviani, menyoroti pentingnya kemampuan mendengarkan dalam kerja-kerja konservasi.

“Sebagian besar masalah di bidang biodiversitas muncul dalam bentuk distraksi dan kebingungan. Dengan mendengarkan secara tulus, kita bisa memahami kenyataan yang sebenarnya terjadi di lapangan,” ujarnya.

Sementara Co-Executive Director PROGRES, Sheherazade, yang juga penggagas diskusi ini, mengajak generasi muda untuk menyeimbangkan pembelajaran dari pengalaman generasi senior dengan keberanian untuk berinovasi.

“Kita perlu menghargai kebijaksanaan masa lalu, tapi juga harus berani mengubah cara lama agar sesuai dengan konteks zaman sekarang,” katanya.

Panel ini juga menghadirkan Pendiri 30×30 Indonesia & Diverseas, Brigitta Gunawan, yang menyoroti pentingnya jejaring lintas generasi untuk memperkuat aksi konservasi di kawasan Asia Tenggara.


Menjawab Tiga Krisis Planet

Diskusi ini relevan dengan kondisi global saat ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UN Environment Programme (UNEP) sejak 2022 telah memperingatkan dunia tentang Triple Planetary Crisis — tiga krisis besar yang meliputi perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, serta polusi dan limbah.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, menekankan bahwa ketiga krisis itu dapat menggagalkan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) jika tidak ditangani secara terpadu.

“Hilangnya biodiversitas disebabkan oleh alih fungsi lahan, eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, polusi, penyakit, hingga konflik manusia-satwa liar. Pelestarian biodiversitas bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” tegas Dolly, yang juga dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.


Peran IUCN Indonesia

Secara terpisah, Co-Chair IUCN Indonesia Species Specialist Group (IUCN IdSSG), Prof. Dr. Mirza D. Kusrini, menjelaskan bahwa kelompok ini berperan dalam mengoordinasikan para ahli dan praktisi hidupan liar di Indonesia untuk mendukung kebijakan berbasis bukti ilmiah dalam upaya menghambat penurunan keanekaragaman hayati.

“Kami berupaya memastikan bahwa setiap kebijakan konservasi diambil dengan dasar ilmiah yang kuat, melibatkan banyak pihak, dan berpihak pada keberlanjutan ekosistem,” kata Prof. Mirza.


Diskusi di Abu Dhabi ini menegaskan satu hal penting: masa depan biodiversitas dunia bergantung pada keberanian generasi muda untuk mendengar, belajar, dan bertindak.

Berita Terkait

AKAMSI Soroti Pembongkaran Pura di Sanur sebagai Dugaan Penistaan Agama
Dua Mobil Yayasan Raib di Tengah Malam, Kuasa Hukum Syarif Hidayatullah Laporkan ke Polres Tangsel
KPK Membawa Dokumen dan Dua Koper Dari Dinas Pendidikan Kab Bogor, yang Sebelumnya Bapenda dan BPKSDM
BIN Dorong UU Khusus Tangkal Intervensi Asing, Herindra: Indonesia Jangan Naif
Ribuan Warga Tajurhalang Tumpah Ruah, Rayakan HUT ke-81 RI dengan Karnaval dan Semangat Gotong Royong
Peringati HUT RI ke 81, Benyamin: Kemerdekaan Harus Diisi dengan Kedaulatan dan Kesejahteraan
Salurkan Bantuan untuk 2.000 Pengungsi, OT Peduli Gempa Nagekeo
Ribuan Warga Gruduk Kantor Camat Ciseeng, Karena Rangkaian Menyambut HUT RI

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 18:38 WIB

AKAMSI Soroti Pembongkaran Pura di Sanur sebagai Dugaan Penistaan Agama

Jumat, 28 Agustus 2026 - 22:36 WIB

Dua Mobil Yayasan Raib di Tengah Malam, Kuasa Hukum Syarif Hidayatullah Laporkan ke Polres Tangsel

Jumat, 28 Agustus 2026 - 22:04 WIB

KPK Membawa Dokumen dan Dua Koper Dari Dinas Pendidikan Kab Bogor, yang Sebelumnya Bapenda dan BPKSDM

Kamis, 27 Agustus 2026 - 20:45 WIB

BIN Dorong UU Khusus Tangkal Intervensi Asing, Herindra: Indonesia Jangan Naif

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:19 WIB

Peringati HUT RI ke 81, Benyamin: Kemerdekaan Harus Diisi dengan Kedaulatan dan Kesejahteraan

Berita Terbaru

HUKUM & KRIMINAL

KPK Angkut 6 Pejabat di Kabupaten Bogor

Kamis, 20 Agu 2026 - 13:30 WIB