KanalNasional.com |Tangerang Selatan, Selasa 18 Maret 2025 – Ramadan merupakan bulan penuh berkah, di mana umat Muslim meningkatkan ibadah dan berbagi kebaikan. Namun, di balik suasana Ramadan yang penuh kehangatan, peningkatan volume sampah justru menjadi tantangan tersendiri. Data dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan menunjukkan bahwa selama Ramadan, jumlah sampah meningkat sebesar 5% – 10% atau bertambah sekitar 50 – 100 ton per hari dari rata-rata harian sebesar 1000 ton. Sampah sisa makanan dan plastik menjadi penyumbang utama lonjakan ini.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup Tangerang Selatan menginisiasi Gerakan Ramadan Minim Sampah sebagai bentuk kampanye untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap pengelolaan sampah. Kepala Bidang Kebersihan, Tubagus Apriliadhi Kusumah Perbangsa, menyatakan bahwa perubahan budaya dalam pengelolaan sampah perlu dimulai dari kesadaran individu agar dampaknya bisa lebih luas.
Tubagus menjelaskan, berdasarkan data, sampah organik seperti sisa makanan mendominasi komposisi sampah harian dengan angka 38,8%, diikuti oleh sampah plastik sebesar 12,2% yang meningkat tajam selama Ramadan akibat kebiasaan membeli makanan dalam kemasan sekali pakai. Dari segi sumbernya, sampah rumah tangga menyumbang 77% dari total sampah, sementara 23% berasal dari non-permukiman seperti pasar dan tempat usaha.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika tidak dikelola dengan baik, penumpukan sampah dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, mengancam kesehatan masyarakat, dan mempercepat penuhnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selain itu, meningkatnya emisi karbon dari sektor sampah juga menjadi isu yang perlu diperhatikan.
Sebagai solusi, Gerakan Ramadan Minim Sampah mengajak masyarakat untuk menerapkan langkah-langkah sederhana guna mengurangi sampah, antara lain:
Membawa wadah makanan sendiri saat membeli takjil atau hidangan berbuka untuk mengurangi penggunaan kemasan plastic, menggunakan tas belanja kain guna menghindari kantong plastik sekali pakai, mengonsumsi makanan secukupnya untuk mengurangi sisa makanan yang terbuang, serta memilih sampah dari rumah agar dapat didaur ulang dan bernilai ekonomi.
Jika langkah-langkah ini diterapkan secara luas, Ramadan bisa menjadi momen refleksi tidak hanya dalam beribadah, tetapi juga dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
“Kami berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya mengurangi sampah, tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Tubagus.
(Adv)
















