KanalNasional.com – Kantor MUI pusat di jalan Proklamasi.no 51, Menteng Jakarta Pusat didemo ratusan massa. Kelompok massa berasal dari Pemuda Bulan Bintang (PBB), Solidaritas Nasional Kebhinekaan Bersatu (SNKB), pemuda, mahasiswa dan masyarakat dari berbagai wilayah.
Kordinator massa Muhammad Affifudin Anshori mengatakan aksi damai ini ngin memberikan pesan, Majelis ulama Indonesia (MUI) atas sikapnya terhadap pesatren Al Zaytun dan pimpinannya panji Gumilang.
“Sebagai lembaga masyarakat bukan lembaga hukum, saat ini sudah bertindak melebihi kewenangan mulai dari melakukan penyelidikan, yang mana secara hukum acara bukan wewenang MUI,” katanya, Kamis (6/7)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengatakan sudah beraudiensi dengan pihak MUI dengan bertemu langsung dengan ketua bidang pemurtadanan dan penyesatan. Dan kami sdh menyampaikan yg menjadi Keresahan-keresahan dimana MUI sudah melampaui kewenangannya.
“Seperti Keresahan hak asasi manusia, hak konstitusi, hak berpendapat, hak mendapatkan pengajaran. MUI menyampaikan kepada kami mereka tidak akan menutup Al Zaytun, jika ada yang ingin menutup dipastikan itu bukan dari MUI,” imbuhnya
Lebih lanjut, kata Affifudin, MUI menjelaskan hanya akan memperkarakan Panji Gumilang karena sudah dianggap menodai agama Islam. MUI meminta masyarakat sama-sama menunggu proses pengadilan yang lebih lanjut.
Terkait tabayun ia tidak menanyakan pada MUI karena hanya fokus pada kewenangan MUI, dan meminta para penegak hukum untuk bertindak secara profesional dalam menjaga hak Konstitusi dan hak asasi manusia, serta MUI utk tetap bersama sama menjaga perdamaian dan bukan sebaliknya.
Selain Anshori, Ustadz Bram Azhar ketua DPP SNKB, menyampaikan kepada MUI agar tidak bermain dengan pola-pola lama. Ia mencontoh seperti Abdul Somad pernah mengucapkand alam kalung salib ada jin kafir. Dirinya meminta MUI jangan seperti yang punya otoritas, kenapa tidak tabayun dulu sebelum menilai, apalagi beritanya masih samar. Karena yang samar itu sama saja dengan berita bohong atau tidak pasti.
“Saya disini bukan membela atau mendukung Al Zaytun dan Panji Gumilang, tetapi ia berharap pola-pola lama MUI tidak terulang lagi, yaitu hauariz dan kafiri (jika tdk mengikuti pemikiran mereka disebut kafir/murtad),” pungkasnya.(red)














