KanalNasional.com | Bogor-Ada yang salah di Jasinga. Di tengah euforia Pemerintah Kabupaten Bogor yang berhasil merekonstruksi Pendopo Eks Kewedanaan Jasinga pada 2025, warga justru bertanya satu hal sederhana: _“Lalu kami boleh masuk kapan?”_
Bangunan bersejarah yang diperjuangkan pemuda sejak Oktober 2024 itu kini berdiri megah. Tapi kemegahannya terasa hampa. Bukan karena bangunannya, tapi karena pagarnya.
Perjuangan menghidupkan kembali Pendopo Jasinga bukan ide dadakan. Para pemuda Jasinga sudah berteriak sejak Oktober 2024. Mereka ingin warisan sejarah itu hidup lagi. Bukan jadi museum mati, tapi jadi ruang publik, tempat belajar, tempat berkumpul, simbol identitas masyarakat Jasinga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aspirasi itu didengar. Pemkab Bogor merealisasikannya tahun 2025.
Namun setelah pita peresmian dipotong, harapan itu justru terbentur tembok. Tembok tinggi yang kini melingkari pendopo.
Pendopo yang seharusnya menjadi simbol keterbukaan, justru dikurung. Masyarakat yang dulu berjuang, kini hanya bisa jadi penonton dari balik pagar. Mau melihat bentuk utuhnya dari kejauhan saja harus bersiasat.
Pertanyaannya pahit: Apa gunanya merekonstruksi bangunan bersejarah jika rakyat hanya diberi hak untuk melihat atapnya?
Rekonstruksi bukan soal selesai mengecat dan memasang genteng. Ada ruh yang harus dihidupkan. Ada nilai sosial, ada fungsi ruang publik, ada memori kolektif masyarakat Jasinga yang ikut dibangun.
Jika alasannya keamanan, itu bisa dipahami. Tapi keamanan tidak harus mematikan akses. Penataan bisa dilakukan tanpa membangun jarak antara pemerintah dan rakyatnya.
Pak Bupati, Pak Wakil.
Uang yang dipakai membangun pendopo ini uang negara. Uang rakyat Jasinga juga ada di dalamnya.
Jangan sampai Pemkab berhasil merekonstruksi bentuk fisiknya, tapi gagal merekonstruksi maknanya.
Jangan sampai semangat para pemuda yang memperjuangkan ini berakhir menjadi ironi: _dibangun atas nama rakyat, tapi rakyatnya dijauhkan._
Pendopo bukan sekadar replika bangunan tua. Ia adalah jejak peradaban, identitas Kewedanaan Jasinga, ruang ingatan kolektif.
Jika akhirnya rakyat hanya boleh bernostalgia dari luar pagar, maka yang kita bangun bukan pelestarian sejarah. Yang kita bangun adalah monumen pengingat bahwa pemerintah lupa siapa pemilik sejarah itu.
Tuntutan: Buka Akses, Hidupkan Fungsi
Warga tidak minta pendopo diobrak-abrik. Warga hanya minta satu hal: keterbukaan.
Buka akses terbatas, buat jadwal kunjungan, libatkan komunitas, jadikan ruang edukasi.
Jangan biarkan Pendopo Eks Kewedanaan Jasinga menjadi bangunan paling megah yang paling sepi.
Jangan bangga telah membangun kembali sejarah, jika rakyatnya sendiri harus berdiri di luar untuk mengenangnya.
Karena sejarah milik semua. Dan sejarah seharusnya tidak dikunci.














