KanalNasional – Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM., MARS, memperingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan melakukan pengasapan atau Fogging demam berdarah dengue (DBD), tindakan tersebut disinyalir bisa menbuat kebal
Menurutnya fogging yang terdiri dari antiseptik pembunuh serangga, dan nyamuk yang terus menerus terpapar antiseptik dalam tubuhnya akan membentuk kekebalan, jadi tidak bisa lagi dibasmi hanya dengan mengandalkan fogging.
“Nyamuk itu makin resisten karena inteksida itu lama-lama kenal jadi resisten sama nyamuk,” ujarnya, Jum’at (29/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ‘dibawa’ oleh nyamuk Aedes Aegypti, ditandai dengan gejala khas seperti demam tinggi tanpa disertai gejala lainnya, tanpa disertai batuk, pilek, ataupun sesak napas.
Maxi membantah jika fogging bisa membuat virus dengue bermutasi dan menyebabkan penyakit DBD semakin parah. Tapi Maxi menegaskan vogging tanpa arahan, hanya akan membuat tindakan tersebut sia-sia.
“Jadi fogging sebenarnya dilakukan setelah petugas melakukan penyidikan epidemologi. Jadi diyakinkan di situ ada baru ada pasien positif DBD, kemudian jentik ada di sekitar itu. Baru boleh radius sekitar 100 meter dilakukan foging,” papar Maxi.
Adapun ia juga melarang fogging hanya dilakukan tanpa dasar, terlebih jika tidak ada warga yang sakit DBD di wilayah tersebut, terlebih melakukan fogging ketika tidak ada yang sakit DBD.
“Daripada melakukan fogging lebih disarankan melakukan Pemberantasan Jentik Nyamuk, lakukan pemantauan jentik dan Vaksinasi DBD,” pungkasnya.(red)















