Kisah Ujang Pustiawan dan Perjuangan Kelompok Tani Flora Mangrove

Selasa, 25 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 19 November 2025 — Ketika sebagian besar warga Jakarta menjalani hari-hari di tengah padatnya kota, Ujang Pustiawan memilih menghabiskan waktunya di hutan mangrove, sebuah ruang sunyi yang menjadi benteng terakhir ekosistem pesisir ibu kota. Di bawah rimbun akar dan naungan pepohonan, ia bersama Kelompok Tani Flora Mangrove, memperjuangkan sesuatu yang mungkin tak terlihat oleh banyak orang, masa depan lingkungan yang lebih baik.

Kecintaan Ujang pada alam bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia tumbuh di lingkungan pedesaan, di mana tanah, pepohonan, dan bibit tanaman adalah bagian dari kesehariannya. Dari sanalah ia belajar bahwa menanam bukan hanya soal menaruh bibit di tanah, tetapi merawat, menjaga, dan menghormati kehidupan. 

“Menanam itu bukan buat hari ini saja. Pohon itu tumbuh buat anak cucu kita,” tutur Ujang mengingat masa kecilnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini, di Jakarta, kecintaan itu ia wujudkan bersama kelompok Flora Mangrove yang telah aktif sejak 2019. Kelompok ini bukan hanya menanam mangrove untuk memulihkan pesisir, tetapi juga membudidayakan tanaman produktif seperti mangga dan sirsak. Bagi mereka, tanah seluas apa pun, sekecil apa pun, tetap bisa memberi manfaat jika dikelola dengan bijak. Upaya ini menjadi bukti bahwa konservasi tidak harus bertentangan dengan produktivitas, keduanya bisa berjalan berdampingan untuk meningkatkan ketahanan lingkungan sekaligus kesejahteraan warga.

Namun, merawat sebuah ekosistem tidak pernah menjadi perkara mudah. Setiap kali air laut pasang, sampah plastik dari perairan Jakarta kembali menyerbu kawasan mangrove, menutup permukaan tanah dan menghambat bibit-bibit muda untuk bertumbuh. Membersihkannya bukan pekerjaan satu kali, hari ini diambil, besok datang lagi.

“Plastik ini yang paling susah. Kita bersihin terus, tapi selalu ada lagi dari laut,” ujar Ujang sambil menunjuk tumpukan sampah yang terperangkap di akar mangrove.

Ancaman lain datang dari penghuni liar kawasan pesisir: monyet ekor panjang. Gemar memanjat dan bermain di batang-batang muda, hewan ini tanpa sadar merusak bibit mangrove yang belum kuat menahan bobot tubuh mereka. Dalam sekejap, tanaman yang baru ditanam bisa patah atau tercabut. “Kadang kita sedih lihatnya, baru tanam sudah rusak lagi,” tutur Ujang. Tapi mereka tidak menyerah. Setiap kerusakan dibalas dengan penanaman ulang, setiap hambatan dianggap bagian dari proses menjaga alam.

Meski begitu, semangat para petani mangrove tidak pernah redup. Bagi Ujang dan rekan-rekannya, perjuangan ini bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi menanam harapan. Mereka membayangkan masa depan di mana anak-anak mereka masih bisa melihat hutan mangrove tumbuh subur, merasakan sejuknya udara pesisir, dan menikmati keanekaragaman hayati yang kini tengah mereka perjuangkan.

“Kami cuma ingin hutan ini tetap ada. Biar anak cucu nanti bisa lihat sendiri indahnya,” kata Ujang dengan mata yang penuh keyakinan.

Di tengah tantangan perubahan iklim, urbanisasi pesisir, dan ancaman pencemaran laut, kisah Ujang menjadi pengingat bahwa keberlanjutan tidak hanya dibangun oleh kebijakan besar, tetapi juga oleh tangan-tangan kecil yang bekerja setiap hari demi menjaga bumi tetap hidup. Pesisir Jakarta mungkin menghadapi tekanan berat, tetapi selama masih ada orang-orang seperti Ujang dan Kelompok Tani Flora Mangrove, harapan itu tidak akan hilang.

Berita Terkait

Festival Budaya Jadi Andalan Tangsel, Benyamin Dorong Wisata dan Ekonomi Kreatif Makin Berkembang
Pasca Disegel, Segel Satpol PP di Bangunan Swash Padel Tidak Nampak
Lewat Reses, Evi Mafriningsianti Dorong Program Pemberdayaan UMKN
Fokus pada Kemandirian Ekonomi, Forum Jurnalis Bogor Raya Resmi Deklarasikan Diri
Semangat Forum Jurnalis Bogor Raya Mendorong Kemandirian Usaha dan Sinergi Antardesa
RPA Ilegal di Pabuaran Mengalirkan Limbah, DLH: Kecamatan Punya Kuasa Tutup
DPRD Bogor Soroti RPA Gunung Sindur, Bau Menyengat Diduga Ganggu Warga
Dinas Koperasi dan UKM Tangsel Dorong 54 KKMP Tepat Waktu Susun dan Upload Laporan RAT

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 20:51 WIB

Festival Budaya Jadi Andalan Tangsel, Benyamin Dorong Wisata dan Ekonomi Kreatif Makin Berkembang

Kamis, 9 Juli 2026 - 14:33 WIB

Pasca Disegel, Segel Satpol PP di Bangunan Swash Padel Tidak Nampak

Kamis, 9 Juli 2026 - 08:44 WIB

Lewat Reses, Evi Mafriningsianti Dorong Program Pemberdayaan UMKN

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:45 WIB

Fokus pada Kemandirian Ekonomi, Forum Jurnalis Bogor Raya Resmi Deklarasikan Diri

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:38 WIB

Semangat Forum Jurnalis Bogor Raya Mendorong Kemandirian Usaha dan Sinergi Antardesa

Berita Terbaru

HUKUM & KRIMINAL

KPK Angkut 6 Pejabat di Kabupaten Bogor

Kamis, 20 Agu 2026 - 13:30 WIB