KanalNasional.com | BOGOR – Pemerintah mulai bangun SMAN 2 Tajurhalang di Desa Sasakpanjang. Tapi anehnya, warga sekitar justru paling terakhir tahu.
Bukan bangun sekolah dulu baru sosialisasi. Ini bangun dulu, kasih tahu belakangan. Akibatnya? Hari pertama SPMB, sistem pendaftaran pun “lupa” mencantumkan nama SMAN 2.
“Relatif Enggak Banyak Yang Tahu”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Itu pengakuan Plt Kepala SMAN 2 Tajurhalang, Ahmad Tahyat.
“SMAN 2 itu relatif enggak banyak yang tahu. Betul, ini saya rasakan ketika SPMB,” kata Ahmad saat ditemui di SMAN 1 Tajurhalang, Senin 28/9/2026.
Di hari pertama pendaftaran, nama SMAN 2 Tajurhalang bahkan belum muncul di sistem. Warga Puri Depok dan sekitarnya akhirnya larinya ke SMA 1 atau ke Bojonggede. Alasannya sederhana: yang dekat dan yang ada di sistem.
“Setelah beberapa hari, baru SMA 2 muncul. Di situlah banyak yang daftar,” ujar Ahmad.
Artinya, potensi siswa hilang duluan karena informasinya telat masuk.
Orang Tua Nanya: “Sekolahnya Di Mana?”
Masalahnya bukan cuma di sistem. Lokasi sekolahnya pun banyak yang tidak tahu.
“Banyak yang belum tahu ketika SMA 2 itu telah dibuka. Mereka juga belum tahu tempatnya di mana,” ungkap Ahmad.
Parahnya, KBM tahun pertama masih numpang di SMAN 1 Tajurhalang. Jadi wajar kalau orang tua bingung: ini sekolah baru atau sekolah bayangan?
Setelah dijelaskan lokasinya di Sasakpanjang, baru deh banyak warga manggut-manggut. “Oh, ini dekat rumah saya.” Terlambat.
NU Tajurhalang: Ini Keliru
Kritik paling keras datang dari Ketua MWCNU Tajurhalang, Ustaz Ruslan Abdul Gani.
Menurutnya, sekolah negeri sebesar ini seharusnya diawali dengan sosialisasi masif. Libatkan kecamatan, desa, tokoh masyarakat. Bukan diam-diam dibangun.
“Pembangunan sekolah semestinya diawali dengan komunikasi dan sosialisasi yang lebih luas kepada masyarakat,” tegasnya.
Yang Tanggung Jawab Siapa?
Ditanya siapa yang harusnya sosialisasi, Ahmad pun angkat tangan.
“Kalau yang bertugas untuk menyosialisasikan sebenarnya siapa, saya enggak tahu. Seperti KCD, itu yang lebih berhak dan yang memang punya tugasnya mungkin mensosialisasikan ke masyarakat. Dibantu sekolah induk ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, Pemdes dan Pem kecamatan juga seharusnya dilibatkan. “Tapi kalau saya lihat, kayaknya belum kemarin itu. Karena banyak yang belum tahu,” sambungnya.
Proyek Jalan, Data Siswa Jalan di Tempat
Ironisnya, fisik sekolah sudah mulai dikerjakan sejak 3 September 2026. Tapi fondasi paling penting, yaitu kepercayaan dan informasi ke masyarakat, justru belum dibangun.
Tahun pertama ini SMAN 2 hanya kebagian 3 rombel dengan 107 siswa. Mungkin bisa lebih banyak kalau dari awal warga tahu.
Sekolah negeri dibiayai uang rakyat. Lokasinya di tengah warga. Masa iya rakyatnya sendiri dikasih tahu paling akhir?
Pemerintah Provinsi Jabar lewat KCD Pendidikan, Pemkab Bogor, Pem kecamatan dan desa Tajurhalang perlu segera menjawab: ini teledor atau memang sengaja?
Jangan sampai SMAN 2 Tajurhalang jadi sekolah “hantu”. Gedungnya ada, siswanya ada, tapi prosesnya gelap. (Red)
















